Wisata Bandung > Kota Bandung Tempo Dulu

Wisata Bandung > Kota Bandung Tempo Dulu

Ada catatan sejarah Kota Bandung, bahwa pada jaman Belanda, Bandung pernah dijadikan obyek tujuan wisata, terutama oleh wisatawan yang datang dari negara-negara Eropa.


Dalam buku Semerbak Bunga di Bandung Raya yang ditulis oleh Haryoto Kunto, dikemukakan bahwa adanya “Bandoeng Voorruit” (Bandung Maju) suatu perkumpulan swasta yang menjadi partner Gemeente Bandung (Kotapraja Bandung) tahun 1920, telah berhasil membangun, menata dan membenahi kota Bandung, sehingga memperoleh julukan Parijs van Java.

Lebih spesifik, Bandoeng Voorruit memilih bidang pembangunan:

  • Menggali dan mengembangkan obyek wisata di Wilayah Bandung dan sekitarnya.
  • Menata dan merias secara artistik wajah penampilan Bandung sebagai tujuan wisata di Nusantara.
  • Menarik sebanyak-banyaknya turis untuk mampir ke Parijs van Java, selain mempromosikan Bandung sebagai kota ideal bagi para pensiunan orang Eropa yang ingin tetap tinggal bermukim di Nusantara.

Sesuai dengan namanya “Bandung Maju”, organisasi swasta itu benar-benar berusaha memajukan sektor pariwisata pada masa lalu. Dalam menggali obyek turisme, Bandung Maju berhasil membangun jalan raya menuju Kawah Tangkubanparahu dan Kawah Papandayan. Selain itu, juga menyediakan fasilitas dan kemudahan bagi para turis yang ingin mengunjungi objek wisata di sekitar Bandung dan Priangan, seperti danau-danau, air terjun, panorama indah, peninggalan sejarah, tempat peristirahatan, dan lain-lain. Bandung Maju bahkan sanggup menyelenggarakan perjalanan mendaki gunung dan menembus rimba. Ada beberapa faktor penyebab atau daya tarik yang mendukung Bandung sebagai daerah tujuan wisata maupun sebagai “kota pemukiman ideal” di Nusantara. Faktor-faktor pendukung tersebut antara lain adalah:

  1. Sebagai sebuah kota pegunungan, Bandung memiliki udara sejuk, nyaman dan menyegarkan. Keramahan penduduk dipadu dengan panorama indah alami Daerah Priangan, merupakan pesona tersendiri. Itu modal utama.
  2. Banyaknya objek wisata sekeliling Bandung yang telah maupun belum digali potensinya. Apalagi letak objek wisata tidak terlampau jauh dari kota, dan tak kelewat sulit untuk mencapainya.
  3. Meski lokasi geografis Bandung di wilayah pegunungan, namun berbagai sarana transpor cukup banyak tersedia untuk mencapainya. Hampir dari semua kota di Jawa ada jalur komunikasi menuju kota Bandung. Kelancaran transpor tentu saja merupakan faktor penunjang suksesnya pengembangan pariwisata.
  4. Pada masa sebelum perang, Bandung lengkap memiliki akomodasi pariwisata seperti hotel, wisma peristirahatan, restoran, tempat rekreasi dan pelayanan transportasi yang dikelola secara baik. Mampu memenuhi persyaratan minimal sebagai kota yang layak menjadi tujuan wisata di Nusantara, bahkan juga untuk wilayah Asia Tenggara.
  5. “Parijs van Java” memiliki kalender tahunan yang menarik dan bisa memancing minat perhatian orang luar kota untuk datang mengunjunginya. Sejak tahun 1920, setiap bulan Juni-Juli, Kota Bandung memasuki suasana pesta. Suatu atraksi wisata berupa ”Bursa Tahunan” (Jaarbeurs) yang meriah diselenggarakan. Jaarbeurs memamerkan segala macam hasil produksi industri maupun pertanian dari segenap peloksok Nusantara. Dalam Bursa Tahunan itu juga diselenggarakan pameran dan festival seni budaya yang diikuti juga oleh artis seniman manca negara.
  6. Salah satu faktor sebagai kunci keberhasilan pengembangan pariwisata adalah promosi atau propaganda. Menyadari akan pentingnya promosi sebagai upaya menarik wisatawan, maka Burgemeester (Walikota) Bandung N. Beets pada tahun 1937 telah melibatkan seluruh warga kota dalam kampanye memperkenalkan objek wisata yang potensial.
  7. Bandung Baheula yang beken sebagai ”Parijs van Java”, memang merupakan kota titirah dan hunian kaum pensiunan yang indah permai. Kota Kembang yang sejuk asri menawan hati , mampu membelai sukma nurani pelancong untuk tetap betah tinggal. Pesona indah panorama alami, dilengkapi taman bersih hijau berseri, merupakan ciri lestari abadi.
  8. Ciri menarik Kota Bandung tempo dulu adalah suasana kehidupan masyarakatnya. Beberapa orang tua dulu sependapat bahwa dahulu Bandung tenar sebagai kota tempat santai dan pelesiran. Dalam basa Sunda disebut Tempat Pangulinan. Suasana kehidupan masyarakat kala itu aman, tertib, dan tentram atau rust en orde, sangat mendukung kelangsungan aktifitas Kota Bandung, hidup terus menerus sehari 24 jam. Memang Bandung tempo dulu adalah kota yang tidak pernah tidur. Tidak seperti jaman sekarang, orang cepat tidur, kelewat sore menutup pintu.

Kini Bandung sudah mulai bebenah diri, ingin mengembalikan citra sebagai Bandung Kota Wisata. Tantangannya yang masih mencolok adalah kepadatan penduduk dan tumbuh berkembangnya bangunan baik guna perumahan, perkantoran serta pengelolaan pertamanan yang memang perlu ditertibkan lebih seksama.

Pertanyaan kecil dari sahabat saya orang pertanian ahli pertamanan: ”Kunaon nya di Kota Bandung mah bet pohon pelindung sisi jalan teh lolobana tangkal Angsana. Pan eta mah gampang runtuh, jeung daunna baradag gampang ngabalaan jalan. Alusna mah tangkal asem karanji, nu kungsi dipelakeun waktu jaman Bandung Tempo Dulu. Pan kiwari mah di kota-kota Jawa Tengah, Jawa Timur jeung kota Jakarta masih loba pelak asem karanji. Tangkalna kuat teu gampang runtuh katebak angin, daunna moal ngabalaan jalan. Oge buahna bisa dijadikeun manisan jeung ubar”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar